Business Roastery

Landed cost dan susut

Materi BelajarBusiness Roastery
Mode Listen & BrewNeural Voice

Dengarkan narasi materi sambil mengikuti contoh, diagram, dan latihan yang tersedia.

Suara:
00:00 / --:--

Logistik Inbound Indonesia dan Landed Cost ยท Pelajaran 3 dari 4

Landed cost dan susut

Pertanyaan bisnis yang ingin kita jawab

Hitung landed cost dari invoice pembelian green, pickup, freight sesuai arah, handling, asuransi, kemasan logistik, pengeluaran tidak bisa dikreditkan dan kehilangan yang sah. Untuk satu lot, pembagi adalah kg green yang dapat digunakan setelah reject, bukan hanya kg yang ditagih. Setelah roast loss, pembagi berubah lagi menjadi kg roasted yang dapat dijual.

Contohnya dalam usaha kopi sehari-hari

  • Jika memakai jasa sangrai: Tanyakan apakah fee contract roasting memakai basis green yang masuk atau roasted saleable yang keluar. Fee Rp/kg dengan penyebut berbeda tidak bisa langsung dibandingkan.
  • Jika menyangrai kopi sendiri: Saat penerimaan, pisahkan berat invoiced, berat benar-benar tiba, berat lolos QC, roasting loss dan sampel QC. Susut bukan angka tunggal yang bebas mengganti hasil timbang.
  • Jika mengelola pesanan lebih besar: Alokasikan biaya inbound per lot, kemudian pertahankan jejak lot ketika digabung menjadi blend. Jangan membagi semua biaya kapal satu bulan secara rata pada SKU yang tidak memakai pengiriman tersebut tanpa dasar alokasi.

Kasus dihitung, seluruh harga selain tarif publik adalah asumsi belajar: Beli 60 kg green Rp110.000/kg sehingga invoice Rp6.600.000. Dasar kargo Makassar โ†’ Jabodetabek 60 ร— Rp3.500 = Rp210.000 (indikatif, belum penawaran); biaya pickup/last-mile/handling diasumsikan Rp390.000. Total acquisition Rp7.200.000. Dari 60 kg diterima, 2% ditolak sehingga usable 58,8 kg; roasting loss terukur hipotetis 15% menghasilkan 49,98 kg; QC mengambil 0,5 kg, maka saleable 49,48 kg. Biaya bahan baku dan inbound per kg roasted saleable โ‰ˆ Rp145.513 sebelum energi, operator, kemasan dan overhead. Jika lot ditolak dan supplier memberi kredit, jangan lupa sesuaikan biaya pembelian.

Tugas yang bisa kamu kerjakan

Buat jembatan biaya per kg pesan โ†’ tiba โ†’ lolos QC โ†’ roasted saleable.

Kesalahan yang harus dicegah

Membebankan ongkos inbound lagi sebagai ongkos outbound dan menghasilkan double count.

Checkpoint pemahaman

Mengapa pembagi Rp7.200.000 adalah 49,48 kg dan bukan 60 kg? Bagaimana HPP berubah jika ada 1 kg produk tak layak jual tambahan? Apakah ongkos publik yang dipakai tadi sudah mencakup pengiriman akhir ke Sukabumi?

Dua arah kapal tidak berarti dua tarif yang sama

Pilih rute berdasarkan barang bergerak dari mana ke mana. Jika green bean dari Sulawesi dikirim ke roastery di Jakarta, sumber tarif Jakarta โ†’ Makassar adalah arah yang salah. Sebuah publikasi penyedia untuk Makassar โ†’ wilayah Jabodetabek mencantumkan harga mulai Rp3.500/kg dengan minimum 50kg. Itu hanyalah referensi awal, bukan kontrak Makassar โ†’ Sukabumi, dan perlu konfirmasi bahwa green coffee dapat dikirim sebagai cargo umum pada jadwal tersebut.

Perhitungan arah masuk (hipotetis 35kg): jika benar berlaku minimum 50kg ร— Rp3.500/kg, komponen ongkos dasar mulai Rp175.000, atau Rp5.000 per kg aktual yang dikirim. Jika buyer hanya punya 35kg dan terpaksa membayar minimum 50, mengalikan 35 ร— 3.500 akan meng-underestimate tagihan sebesar Rp52.500. Angka belum memasukkan pickup asal, handling, packing, asuransi, pajak bila berlaku, penerusan antargudang, dan biaya sampai fasilitas.

Pemeriksaan logistik sebaiknya mencatat dimensi karung, berat aktual dan volumetrik berdasarkan aturan operator, kelas komoditas, risiko bau/lembap, penerima, inspeksi penerimaan serta tanggal yang dibutuhkan produksi. Transit pelayaran 5โ€“7 hari bukan total lead time: pemasok bisa memerlukan hari untuk menyiapkan lot, sedangkan jadwal kapal, last mile dan QC menambah waktu.

Bukti kerja: dua quotation searah dan tanggal sama, tabel biaya first-/middle-/last-mile, perhitungan minimum, serta skenario kapal terlambat satu pekan.